Niat Juga Mengendalikan Mood


#Week 3
Udah lewat sih ini. 😅 Ya mau gimana lagi, pekan kemarin tuh hectic banget. Mau nulis ini aja rasanya ga mood, apalagi buat tulisan berbobot, wkwk. Niat nulis untuk merecord pengalaman hidup, rupanya masih kurang ya, dibuktikan dengan hamba yang tak sanggup melawan nafsyu inkonsisten. 💃🏻

Lanjut aja deh bagaimana hariku di pekan kemarin. Kalau throwback, poin penting yang terjadi adalah, aku, menerima sejumlah combo hit dari bayi 2 tahunku, Ahnaf. Seperti gelombang tsunami, wkwk, Ahnaf memunculkan beberapa perilaku barunya bersamaan yang mengakibatkan moodku teracak-acak. 

Awalnya... 

Diri yang tak bersiap untuk itu, mengalami guncangan besar. Emosi tak terkendali, ditambah suami sedang tidak di rumah. Serta merta kulampiaskan ke orang lain melalui aplikasi chat, dengan kalimat yang kalau dibaca, pasti membuat perasaan tidak enak. Dan begitulah yang terjadi. 

Aku tak sempat menghapus pesannya. Padahal biasanya kalau sudah curhat, akan kuhapus segera pesan itu. Tapi kali ini tidak! Hiks sudah takdir. Tentu skenario Allah lebih baik dari yang aku inginkan. Qadarullah wa maasyaa fa'ala. 

Keesokan harinya, suamiku mulai menunjukkan gelagat tidak enak. Aku yang kepekaannya seperti indra penciuman predator, menyadari bahwa dia pasti sudah membuka pesan itu. Saking kecewanya ia, aku diminta untuk pulang ke rumah orangtua. Sementara dia tetap disini, di rumah mertua untuk merawat keluarga yang sakit. 

Jujur, aku sangat lemah terhadap permusuhan. Apalagi yang mendiamkan itu suami. Segera kuminta kelapangan hatinya untuk memaafkanku dengan berurai air mata. Hei, itu bukan senjata! Aku menangis karena ikut merasakan sakitnya hati dia. Meskipun benar, dibumbui pula oleh syaitan bahwa aku tidak sepenuhnya bersalah. 🙄

Dengarkan Pembelaanku

Cobalah berada di posisiku sebagai ibu hamil yang punya standar kebersihan tinggi sejak kecil. Aku dihadapkan dengan lingkungan kampung, dimana segalanya masih tradisional. Termasuk toilet tanpa kloset. Dalam keadaan perut besar, aku harus membersihkan sisa-sisa najis Ahnaf yang kalau menunduk, posisi perut terjepit karena kepala merendah sampai lutut. Belum cukup sampai situ, Ahnaf bahkan memainkan air yang tergenang di sekitar kakinya. Oke, di sekitar kakinya. Yang masih ada sisa air najis belum tersiram. 🤲🏻

Oh Allah. Tanpa bisa kukendalikan, tanganku bergerak duluan memukul Ahnaf. 😭 Hanya sekali, tapi berhasil membuat Ahnaf meniru perilaku-ku. 😭 Saat itu juga dia copy, memukulku balik yang sukses membuatku sakit hati. Senjata makan tuan. Hah. 

Lesson Learned

Tapi yang sangat aku syukuri, dari masalah itu, Allah memberiku pelajaran untuk selalu memperbarui niat. Bila niatku murni karena Allah, ingin meraih keridhaanNya melalui proses membersihkan najis dan bersabar ketika Ahnaf mengeksplor lantai, tentu hatiku tetap tentram. Moodku juga terjaga kestabilannya. 

Semenjak itu, aku mulai berusaha mengambil posisi tenang sebelum melakukan sesuatu. Menguatkan kembali, atas tujuan apa aku melakukan ini itu? Kuupayakan untuk menghadirkan Allah di setiap langkah. Merasa diawasi olehNya, dan berniat meraih ridhaNya. 

Buah yang kudapat sangaaaat manis. Aku tidak lagi mudah dipancing emosi. Apalagi Allah memberiku bonus ilmu parenting tentang perilaku Ahnaf di grup Whatsapp. MasyaAllah. Rasanya beda sekali. Pukulan dan tatapan menantang dari Ahnaf, akhirnya terlihat lucu dan normal-normal saja. Padahal sebelum itu, aku sangat kecewa dan tak mampu memberikan kebaikan yang tulus untuk Ahnaf. Maha Baiknya Allah. 😭

Kesimpulan

Niat rupanya mengambil peran besar terhadap mood. Kalau niat itu kuat, maka guncangan apapun tak mampu merobohkan langkah kita. Emosi dan mood jadi hal kecil. Jika 2 hal ini terkendali, menjalani hidup akan lebih mudah karena kita tak mengharapkan apa-apa lagi pada manusia, hanya menginginkan kebaikan dari Allah dan tentu akan memunculkan kepasrahan kita juga atas keputusanNya. 
rumayshays
Give all your best, just for Allah

Related Posts

Subscribe Our Newsletter